Susu
merupakan salah satu faktor risiko pemicu AV. Pengaruh susu terhadap AV
tergantung pada jenis susu yang dikonsumsi dan frekuensi konsumsinya.
- Jenis Susu
Suatu
studi case control menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi susu segar (Whole milk) 3 hari/lebih dalam satu
minggu memiliki kemungkinan 2,36 kali mengalami AV derajat sedang hingga berat
daripada yang mengkonsumsi < 3 hari/minggu. Sedangkan mengkonsumsi susu
rendah lemak >3 hari/minggu memiliki risiko 1,95 kali. Konsumsi whole milk
lebih berisiko menyebabkan AV daripada susu rendah lemak (1). Studi lainnya
menyatakan bahwa skim milk (OR 1,82) lebih berisiko daripada whole milk (OR 1.48) dan
susu rendah lemak (OR 1.25) (2). Hal ini diduga disebabkan oleh skim milk memiliki
indeks glikemik yang lebih tinggi daripada whole milk (4)
- Frekuensi
Peningkatan
frekuensi sejalan dengan peningkatan risiko mengalami AV. Sebuah metaanalisis
menunjukan bahwa mengkonsumsi susu jenis apapun selama 2-6 gelas/ minggu memiliki
risiko 1,24, 1 gelas/hari 1,41, dan ≥ 2 gelas/hari 1,43 mengalami AV jika dibandingkan
dengan orang yang tidak mengkonsumsi susu dalam seminggu terakhir (3).
- Mekanisme susu mempengaruhi AV
Mekanisme susu menyebabkan AV
diduga akibat peningkatan insulin dan IGF-1 setelah mengkonumsi susu yang dapat
meningkatkan produksi hormon androgen. Hiperandrogen dapat menyebabkan produksi
sebum menjadi berlebihan (Hiperseboroik). Hiperseoroik merupakan salah satu patogenesis
AV. Selain itu, pertumbuhan sel juga meningkat akibat hiperinsulin dan
peningkatan IGF-1. Pertumbuhan sel berlebih dapat menyebabkan patogenensis AV
lainnya yaitu hiperkeratinisasi pada folikel pilosebasea (tempat produksi
sebum). Hiperkeratinisasi menyebabkan sebum tertahan di dalam folikel sehingga tekanan
di dalam folikel pilosebasea menjadi meningkat dan kadar oksigen menurun. Kadar
oksigen yang rendah mendukung tumbuhnya bakteri anaerob penyebab AV, Propionibacterium acne (P. acne). Selain itu, sebum yang
berlimpah, yang merupakan nutrisi bagi P.
acne, juga semakin meningkatkan pertumbuhan P. acne. Bakteri ini selanjutnya akan memicu terjadinya inflamasi
pada folikel pilosebaseus dan memperparah AV.
Daftar
Pustaka
- Aalemi AK, Anwar I, Chen H. Dairy consumption and acne: a case control study in Kabul, Afghanistan. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2019;12:481–487.
- Aghasi M, Golzarand M, Shab-Bidar S, Aminianfar A, Omidian M, Taheri F. Dairy intake and acne development: A meta-analysis of observational studies. Clin Nutr. 2019; 38(3):1067-107
- Juhl CR, Bergholdt HKM, Miller IM, Jemec GBE, Kanters JK, Ellervik C. Dairy Intake and Acne Vulgaris: A Systematic Review and Meta-Analysis of 78,529 Children, Adolescents, and Young Adults. Nutrients. 2018;10(8):1049.
- Tan JK, Bhate K. A global perspective on the epidemiology of acne. Br J Dermatol. 2015;172 Suppl 1:3-12.
Comments
Post a Comment